Sosialisasi Jagung Komposit di Desa Sakti

  • 24 Juli 2015
  • Dibaca: 500 Pengunjung
Sosialisasi Jagung Komposit di Desa Sakti

Jagung menjadi salah satu komoditi tanaman pertanian yang dikembangkan warga Nusa Penida. Tanaman pangan dengan nama Latin zea mays ssp ini dapat tumbuh pada lahan kering dengan curah hujan yang relatif rendah serta memiliki daya adaptasi tinggi. Secara global, jagung juga menjadi penghasil karbohidrat terpenting untuk pangan dunia selain gandum dan beras.

Dalam beberapa dekade terakhir, minat masyarakat menekuni sektor pertanian turun drastis, termasuk di Indonesia yang notabena negara agraris. Mensiasati lesunya animo masyarakat bidang pertanian, Pemerintah kabupaten Klungkung kembali turun gunung untuk menggali potensi dan menghidupkan gairah bertani masyarakat dengan mengadakan sosialisasi ke desa-desa. Kamis, (23/7), Desa Sakti mendapat giliran sebagai target sosialisasi. Hadir dalam rapat yang bertempat di Kantor Desa Sakti antara lain Perwakilan Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Klungkung, Penyuluh Pertanian Kecamatan Nusa Penida, unsur TNI, perangkat desa dan perwakilan warga.

Sosialisasi ditekankan pada pengembangan jagung komposit jenis Srikandi Putih. Sepintas jagung jenis ini memiliki kesamaan dengan jenis lainnya baik metode tanam maupun sistem perawatannya. Namun jagung komposit ini dinilai lebih unggul dari sisi produktivitas, adaptasi tinggi serta dapat tumbuh di lahan marginal. Pada bagian pemaparan, penyuluh pertanian, I Made Serata meminta pertanian yang dikembangkan harus ramah lingkungan, tidak mesti bertumpu pada bahan kimia baik untuk pupuk maupun penyemprotan. Menurutnya, cara instan ini secara perlahan akan mengurangi kesuburan tanah. Pengolahan tanah dengan teknik membajak dan menabur pupuk kandang ataupun kompos jauh lebih baik. Ia pun menambahkan, jika program ini berhasil maka masalah kerawanan pangan setidaknya bisa teratasi.

“Pola pengolahan lahan seharusnya kembali seperti pada masa lalu dengan nengale (red; membajak tahap awal) kemudian nyungkrak (red; membajak tahap berikutnya) agar kesuburan tanah terjaga dengan baik. Demikian juga untuk pemupukannya menggunakan pupuk kandang,” ungkap Serata.

Tidak hanya mematok masalah pengembangan jagung komposit semata, pihak Dinas Pertanian dan Perkebunan juga memberi kesempatan kepada warga untuk mengajukan usul tanaman yang sesuai dengan daerah masing-masing termasuk yang memiliki nilai jual tinggi.

“Di banjar saya yang menjadi komoditi panas dari tahun ke tahun adalah buah pisang. Kini kami tak perlu susah payah seperti dulu mempersiapkan buah pisang hasil panen untuk dijual ke pasar karena para bakul gencar berburu ke desa-desa. Hanya saja kendala yang kami hadapi minimnya stok bibit,” ujar perwakilan warga dari Banjar Cemulik.

Mencermati usulan warga, pihak dinas meminta agar dibentuk kelompok tani di Banjar Cemulik yang hingga kini belum ada kelompok tani yang terbentuk di wilayah tersebu. Pembentukan kelompok tani akan lebih memudahkan pihak terkait dan warga untuk berkoordinasi, baik sisi pembinaan maupun layanan lainnya.

“Harapan semua pihak dengan adanya sinergi antara program pemerintah dan gairah bertani masyarakat akan mewujudkan kesejahteraan sehingga sektor pertanian kembali diminati serta dijadikan mata pencaharian,” terang Serata di akhir sosialisasi.

  • 24 Juli 2015
  • Dibaca: 500 Pengunjung

Berita Terkait Lainnya

Cari Berita